Jumat, 14 Maret 2014

PENGINDERAAN JAUH (REMOTE SENSING/RS)

PENGINDERAAN JAUH (REMOTE SENSING/RS)

Sabins (1996) dalam Kerle, et al. (2004) menjelaskan bahwa penginderaan jauh adalah ilmu untuk memperoleh, mengolah dan menginterpretasi citra yang telah direkam yang berasal dari interaksi antara gelombang elektromagnetik dengan sutau objek. Sedangkan menurut Lillesand and Kiefer (1993), Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau fenomena yang dikaji.
Data penginderaan jauh diperoleh dari suatu satelit, pesawat udara balon udara atau wahana lainnya. Data-data tersebut berasal rekaman sensor yang memiliki karakteristik berbeda-beda pada masing-masing tingkat ketinggian yang akhirnya menentukan perbedaan dari data penginderaan jauh yang di hasilkan (Richards and Jia, 2006).
Pengumpulan data penginderaan jauh dapat dilakukan dalam berbagai bentuk sesuai dengan tenaga yang digunakan. Tenaga yang digunakan dapat berupa variasi distribusi daya, distribusi gelombang bunyi atau distribusi energi elektromagnetik (Purwadhi, 2001).

Skema Umum Penginderaan Jauh
Penginderaan jauh sangat tergantung dari energi gelombang elektromagnetik. Gelomabng elektromagnetik dapat berasal dari banyak hal, akan tetapi gelombang elektromagnetik yang terpenting pada penginderaan jauh adalah sinar matahari. Banyak sensor menggunakan energi pantulan sinar matahari sebagai sumber gelombang elektromagnetik, akan tetapi ada beberapa sensor penginderaan jauh yang menggunakan energi yang dipancarkan oleh bumi dan yang dipancarkan oleh sensor itu sendiri. Sensor yang memanfaatkan energi dari pantulan cahaya matahari atau energi bumi dinamakan sensor pasif, sedangkan yang memanfaatkan energi dari sensor itu sendiri dinamakan sensor aktif (Kerle, et al., 2004)
Analisa data penginderaan jauh memerlukan data rujukan seperti peta tematik, data statistik dan data lapangan. Hasil nalisa yang diperoleh berupa informasi mengenai bentang lahan, jenis penutup lahan, kondisi lokasi dan kondisi sumberdaya lokasi. Informasi tersebut bagi para pengguna dapat dimanfaatkan untuk membantu dalam proses pengambilan keputusan dalam mengembangkan daerah tersebut. Keseluruhan proses pmulai dari pengambilan data, analisis data hingga penggunaan data tersebut disebut Sistem Penginderaan Jauh (Purwadhi, 2001)

======================
PENGINDERAAN JAUH (REMOTE SENSING)
1. Pengertian Penginderaan Jauh (Remote Sensing) :
Berikut adalah pengertian Pengindraan jauh menurut beberapa ahli
· Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu penggunaan sensor radiasi elektromagnetik untuk merekam gambar lingkungan bumi yang dapat diinterpretasikan sehingga menghasilkan informasi yang berguna (Curran, 1985).
 
· Penginderaan Jauh (remote sensing) adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah, atau fenomena yang dikaji (Lillesand dan Kiefer, 1998)
 
· Everett Dan Simonett (1976) : Penginderaan jauh merupakan suatu ilmu, karena terdapat suatu sistimatika tertentu untuk dapat menganalisis informasi dari permukaan bumi, ilmu ini harus dikoordinasi dengan beberapa pakar ilmu lain seperti ilmu geologi, tanah, perkotaan dan lain sebagainya.
· Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu suatu pengukuran atau perolehan data pada objek di permukaan bumi dari satelit atau instrumen lain di atas jauh dari objek yang diindera (Colwell, 1984). Foto udara, citra satelit, dan citra radar adalah beberapa bentuk penginderaan jauh.
· Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu ilmu untuk mendapatkan informasi mengenai permukaan bumi seperti lahan dan air dari citra yang diperoleh dari jarak jauh (Campbell, 1987). Hal ini biasanya berhubungan dengan pengukuran pantulan atau pancaran gelombang elektromagnetik dari suatu objek.
· Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu, Ilmu teknologi dan seni dalam memperoleh informasi mengenai objek atau fenomena di (dekat) permukaan bumi melalui media perekam objek atau fenomena yang memanfaatkan energi yang berasal dari gelombang elektromagnetik dan mewujudkan hasil perekaman tersebut dalam bentuk citra.
3. Manfaat Penginderaan Jauh terhadap berbagai disiplin ilmu :
 
C. BIDANG PEMBUATAN PETA
Peta citra merupakan citra yang telah bereferensi geografis sehingga dapat dianggap sebagai peta. Informasi spasial yang disajikan dalam peta citra merupakan data raster yang bersumber dari hasil perekaman citra satelit sumber alam secara kontinu. Peta citra memberikan semua informasi yang terekam pada bumi tanpa adanya generalisasi.
Peranan peta citra (space map) dimasa mendatang akan menjadi penting sebagai upaya untuk mempercepat ketersediaan dan penentuan kebutuhan peta dasar yang memang belum dapat meliput seluruh wilayah nasional pada skala global dengan informasi terbaru (up to date). Peta citra mempunyai keunggulan informasi terhadap peta biasa. Hal ini disebabkan karena citra merupakan gambaran nyata di permukaan bumi, sedangkan peta biasa dibuat berdasarkan generalisasi dan seleksi bentang alam ataupun buatan manusia. Contohnya peta dasar dan peta tanah.
G. BIDANG GEOFISIKA BUMI PADAT, GEOLOGI, GEODESI, DAN LINGKUNGAN (LANDSAT, GEOSAT)
Manfaat penginderaan jauh di bidang geofisika, geologi, dan geodesi adalah sebagai berikut.
a. Melakukan pemetaan permukaan, di samping pemotretan dengan pesawat terbang dan menggunakan aplikasi GIS.
b. Menentukan struktur geologi dan macam batuan.
c. Melakukan pemantauan daerah bencana (kebakaran), pemantauan aktivitas gunung berapi, dan pemantauan persebaran debu vulkanik
d. Melakukan pemantauan distribusi sumber daya alam, seperti hutan (lokasi, macam, kepadatan, dan perusakan), bahan tambang (uranium, emas, minyak bumi, dan batu bara).
e. Melakukan pemantauan pencemaran laut dan lapisan minyak di laut.
f. Melakukan pemantauan pencemaran udara dan pencemaran laut. (Dra. Sri Hartati Soenarmo MSP, 1993)
F. BIDANG HIDROLOGI (LANDSAT/ERS, SPOT)
Manfaat penginderaan jauh di bidang hidrologi adalah sebagai berikut.
a. Pemantauan daerah aliran sungai dan konservasi sungai.
b. Pemetaan sungai dan studi sedimentasi sungai.
c. Pemantauan luas daerah intensitas banjir.
D. BIDANG METEOROLOGI (METEOSAT, TIROS, DAN NOAA)
Manfaat penginderaan jauh di bidang meteorologi adalah sebagai berikut.
a. Mengamati iklim suatu daerah melalui pengamatan tingkat perawanan dan kandungan air dalam udara.
b. Membantu analisis cuaca dan peramalan/prediksi dengan cara menentukan daerah tekanan tinggi dan tekanan rendah serta daerah hujan badai dan siklon
mMengamati sistem/pola angin permukaan.
d. Melakukan pemodelan meteorologi dan set data klimatologi.
E. BIDANG OSEANOGRAFI (SEASAT)
Manfaat penginderaan jauh di bidang oseanografi (kelautan) adalah sebagai berikut.
a. Mengamati sifat fisis laut, seperti suhu permukaan, arus permukaan, dan salinitas sinar tampak (0-200 m).
b. Mengamati pasang surut dan gelombang laut (tinggi, arah, dan frekwensi).
c. Mencari lokasi upwelling, singking dan distribusi suhu permukaan.
d. Melakukan studi perubahan pantai, erosi, dan sedimentasi (LANDSAT dan SPOT).

GIS Kelautan

GIS Kelautan

Hasil dari semua model yang telah berhasil disimulasikan dapat dituangkan dalam bentuk Sistem Informasi Geografis (SIG) melalui modul GIS Kelautan. Manajeman data dari hasil pemodelah di sungai dan di perairan terbuka, pesisir pantai atau laut lepas dapat diintegrasikan melalaui modul ini. Modul ini merupakan ekstensi dari perangkat lunak ArcGIS versi 9.0 dan versi 9.1. Penanganan hasil model untuk diintegrasikan dengan data keruangan pendukung lain dimungkinkan dengan menggunakan modul ini. Lebih lanjut lagi dapat memberikan penyajian visualisasi melalui teknologi mutahir dengan antar muka jaringan yang terhubung dengan jaringan internet dengan teknologi web-base.

Perangkat yang disediakan pada modul GIS Kelautan ini meliputi:
  • Manager Kelautan (Marine Manager), berfungsi untuk membuat, mendisain dan menampilkan basisdata hasil pemodelan.
  • Manager Survei (Survey Manager), berfungsi untuk mengimport, menyimpan dan mengeksport data-data pengamatan atau observasi data kelautan di lapangan.
  • Manager Transek (Transect Manager), berfungsi untuk membuat, memasukan dan menganalisis hasil visualisasi melintang dari parameter laut.
  • Manager Garis Pantai (Coastline Manager), berfungsi untuk membuat, menyimpan dan menganalisis perubahan garis pantai.
  • Manager Permukaan (Surface Manager), berfungsi untuk menyajikan visualisasi sebaran horizontal parameter laut.
  • Manager Gambar (Image Manager), berfungsi untuk membuat dan menampilkan peta dasar sebagai referensi geografis.
Perangkat pada modul GIS Kelautan dapat pula membantuk untuk mengatur data-data observasi atau hasil model pada sungai dan muara sungai, yaitu sebagai berikut:
  • Melakukan deliniasi daerah aliran sungai dan sungai serta menempatkan dalam format data vektor garis atau poligon.
  • Analisis potongan menyilang dari data DEM (topografi).
  • Estimasi sumber polusi pantai.
  • Visualisasi dan animasi untuk mempresentasi hasil pemodelan di aliran sungai terutama untuk aplikasi banjir dan pencemaran.
Penerapan modul GIS kelautan dapat dimodelkan dan disimulasikan dengan berbagai skenario dengan aplikasi yang terdapat pada menu di samping kanan.

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN KONDISI FISIKOKIMIA EKOSISTEM SUNGAI (POLA LONGITUDINAL SUNGAI BANJARAN)

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN
KONDISI FISIKOKIMIA EKOSISTEM SUNGAI (POLA LONGITUDINAL SUNGAI BANJARAN)







Oleh:
Jusac Rabin Sinaga      H1K012022




Asisten :
      Harry Farhat





KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
PURWOKERTO
2013


I.                  PENDAHULUAN
1.1.       Latar Belakang
            Ekosistem adalah kumpulan dari komunitas beserta faktor biotik (tumbuhan, hewan dan manusia) dan abiotik (suhu, iklim, senyawa-senyawa organik dan anorganik). Menurut Undang-Undang Lingkungan Hidup (UULH) tahun 1982 ekosistem adalah tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem merupakan tingkat yang lebih tinggi dari komunitas atau merupakan kesatuan dari suatu komunitas dengan lingkungannya di mana terjadi hubungan antar keduanya (Irwan, 1992).
            Ekosistem sungai merupakan suatu kumpulan integral dari berbagai komponen abiotik (fisika-kimia) dan biotik (organisme hidup) yang berkaitan satu sama lain dan saling berinteraksi membentuk suatu unit fungsional. Komponen-komponen ini secara fungsional tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Apabila terjadi perubahan pada salah satu dari komponen-komponen tersebut (misalnya perubahan nilai parameter fisika-kimia perairan), maka akan menyebabkan perubahan pada komponen lainnya (misalnya perubahan kualitatif dan kuantitatif organismenya). Perubahan ini tentunya dapat mempengaruhi keseluruhan sistem yang ada, baik dalam kesatuan struktur fungsional maupun dalam keseimbangannya.
            Sungai merupakan perairan yang mengalir (lotik), oleh karena itu sungai memiliki arus yang berbeda-beda di setiap tempatnya. Dan di setiap aliran memilki organisme yang berbeda pula.
            Zona utama sungai pada aliran air ada 2 macam yaitu zona air deras dan air tenang. Zona arus deras yaitu daerah yang dangkal dan kecepatan arus cukup tinggiuntuk meyebabkan dasar sungai bersih dari endapan dan materi lain yang lepas,sehingga dasarnya padat. Zona arus tenang yaitu bagian sungai yang dalam dengankecepatan arus sudah berkurang, maka lumpur dan materi lepas cenderungmengendap didasar. Sungai mengalami perubahan dari hulu ke hilir. Perubahantersebut dapat terlihat pada bagian atas dari aliran air, dan komposisi kimia berubahdengan cepat. Perubahan komposisi komunitas sewajarnya lebih jelas pada kilometer terahir (Odum, 1993).

1.2.       Tujuan
Praktikum ekologi perairan, Pola Longitudinal Ekosistem Sungai ini bertujuan untuk mengetahui:
1. Bagaimana pola perubahan dari faktor-faktor fisikokimia sepanjang dearah aliran sungai Serayu
2. Pengaruhnya terhadap biota perairan yang terdapat didalamnya.













I.             TINJAUAN PUSTAKA
1.1.       Ekosistem
            Ekosistem merupakan suatu sistem ekologi yang terdiri atas komponen- komponen biotik dan abiotik yang saling berintegrasi sehingga membentuk satu kesatuan. Di dalam ekosistem perairan danau terdapat faktor-faktor abiotik dan biotik (produsen, konsumen dan pengurai) yang membentuk suatu hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi.. Berdasarkan pustaka lain, telaga adalah suatu badan air alami yang selalu tergenang sepanjang tahun dan mempunyai mutu air tertentu yang beragam dari satu telaga ke telaga yang lain serta mempunyai produktivitas biologi yang tinggi (Ruttner, 1977 dalam Satari, 2001).
1.2.       Sungai
            Sungai adalah perairan umum yang airnya mengalir terus menerus pada arah tertentu, berasal dari air tanah, air permukaan yang diakhiri bermuara ke laut. Sungai sebagai perairan umum yang berlokasi di darat dan merupakan suatu ekosistem terbuka yang berhubungan erat dengan sistem-sistem terestrial dan lentik. Ciri-ciri umum daerah aliran sungai adalah semakin ke hulu daerahnya pada umumnya mempunyai tofograpi makin bergelombang sampai bergunung-gunung. Sungai adalah lingkungan alam yang banyak dihuni oleh organisme (Odum, 1996).
            Zonasi pada habitat air mengalir adalah mengarah ke longitudinal, yang menunjukkan bahwa tingkat yang lebih atas berada di bagian hulu dan kemudian mengarah ke hilir. Menurut Soemarwoto (1980), Pada habitat air mengalir ini, perubahan-perubahan yang terjadi akan lebih nampak pada bagian atas dari aliran air karena adanya kemiringan, volume air atau komposisi kimia yang berubah. Menurut Soemarwoto (1980), secara umum zonasi habitat air mengalir, yaitu:
Arus mempunyai arti penting untuk pergerakan ikan. Arus yang searah dari hulu sangat penting untuk pergerakan ikan atau bahkan menyebabkakn ikan-ikan bergerak aktif melawann arus, kea rah muara pergerakan ikan dapat berlangsung dengan pasif maupun mengapung (Wotton, 1992), Sungai merupakan salah satu perairan darat yang mengalir. Berdaasrkan letak dan kondisi lingkungannya dibagi menjadi tiga bagian :
• Hulu sungai, terletak di daerah yang dataran tinggi, menglir melalui bagian yang curam, dangkal, berbatu, arus deras, volume air kecil, kandungan oksigen telarut tinggi, suhu yang rendah, dan warna air jernih.
• Hilir sungai, terletak didaratan yang rendah, dengan arus yang tidak begitu kuat dan volume air yang besar, kecepatan fotosintesis yang tinggi dan banyak bertumpuk pupuk organik.
• Muara sungai letaknya hamper mencapai laut atau pertemuan sungai-sungai lain, arus air sangat lambat dengan volume yang lebih besar, banyak mengandung bahan terlarut, Lumpur dari hilir membentik delta dan warna air sangat keruh .

1.3.       Parameter Fisikokimia Perairan Sungai
            Faktor yang menentukan distribusi dari biota air adalah sifat fisik-kimmia perairan. Organisme yang dapat disesuaikan denagn kondisi sifat fisik-kimia yang akan mampu hidup (Krebs ,1978). Penyebaran jenis dan hewan akkuatik ditentukan oleh kualitas lingkungan yang ada seperti sifat fisika, kimia, biologisnya(Odum, 1971). Whitton (1975) menambahkan bahwa kehidupan ikan disuatu perairan dipengaruhi oleh volume air mengalir, kecepatan arus, temperatur, pH dan konsentrasi oksigen terlarut.
1.3.1.  Biological Oxygen Demand (BOD)
            BOD atau Biochemical Oxygen Demand adalah suatu karakteristik yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme(biasanya bakteri) untuk mengurai atau mendekomposisi bahanorganik dalamkondisi aerobik (Umaly dan Cuvin, 1988; Metcalf & Eddy, 1991). Ditegaskanlagi oleh Boyd (1990), bahwa bahan organik yang terdekomposisi dalam BOD adalah bahan organik yang siap terdekomposisi (readily decomposable organic matter). Mays (1996) mengartikan BOD sebagai suatu ukuran jumlah oksigen yang digunakan oleh populasi mikroba yang terkandung dalam perairan sebagai respon terhadap masuknya bahan organik yang dapat diurai.
            BOD adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global proses mikrobiologis yang benar-benar terjadi dalam air.  BOD merupakan parameter yang umum dipakai untuk menentukan tingkat pencemaran bahan organik pada air limbah. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan dan untuk mendesain sistem pengolahan secara biologis (G. Alerts dan SS Santika, 1987). Adanya bahan organik yang cukup tinggi (ditunjukkan dengan nilai BOD dan COD) menyebabkan mikroba menjadi aktif dan menguraikan bahan organik tersebut secara biologis menjadi senyawa asam-asam organik.
            Peruraian ini terjadi disepanjang saluran secara aerob dan anaerob. Timbul gas CH4, NH3 dan H2S yang berbau busuk (Djarwanti dkk, 2000). Uji BOD ini tidak dapat digunakan untuk mengukur jumlah bahan-bahan organik yang sebenarnya terdapat di dalam air, tetapi hanya mengukur secara relatif jumlah konsumsi oksigen yang digunakan untuk mengoksidasi bahan organik tersebut. Semakin banyak oksigen yang dikonsumsi, maka semakin banyak pula kandungan bahan-bahan organik di dalamnya.


1.3.2. Temperatur
            Temperatur adalah salah satu faktor yang penting dalam suatu perairan untuk mengukur temperatuh lingkkungan tersebut. Suhu merupakan salah satu faktoryang penting dalam suatu perairan karena suhu merupakan faktor pembatas bagi ekosistem perairan dan akan membatasi kehidupan organisme akuatik (Oudum, 1971). Menurut Sucipto dan Eko (2005) menyatakan bahwa suhu mematikan (lethal) hampir untuk semua spesies ikan bekisar 10-11ºC selama beberapa hari. Menurut Barus (2002), kisaran suhu air yang baik dalam perairan dan kehidupan ikan yaitu berkisar antara 23-32ºC.
1.3.3. Derajat keasaman air (pH)
            Derajat krasaman (pH) merupakan suatu indeks konsentrasi ion hidrogen dan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan organisme perairan, sehingga dapat dipergunakan sebagai petunjuk baik buruknya suatu perairan sebagai lingkungan hidup (Siregar,et al., 2002). Derajat keasaman berpengaruh sangat besar terhadap kehidupan hewan dan tumbuhan air serta mempengaruhi toksisitas suatu senyawa kimia (Effendi, 2003). Nilai pH dapat dipengaruhi anatara lain buangan industri dan rumah tangga (Mahidda, 1984). Derajat krasaman (pH) berkaitan erat dengan karbondioksida dan alkalinitas, semakin tinggi pH, semakin tinggi alkalinitas dan semakin rendah kadar kandungan dioksida bebas (Mackereth et al, 1989). pH merupakan tingkat derajat keasaman yang dimiliki setiap unsur, pH juga berpengaruh terhadap setiap organisme, karena setiap organisme atau indivudu memiliki ketentuan pada derajat keasaman (pH) berapa mereka dapat hidup.
            Kondisi perairan yang bersifat sangat asam maupun sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi serta dapat meningkatkan konsentrasi ammonia yang bersifat sangat toksik bagi organisme (Barus, 2002). (Pescod, 1973 dalam Kristina, 2001) menyatakan pada pH antara 4-6,5 dan pH 8,5-11 pertumbuhan ikan akan lambat sehingga reproduksi terhambat
1.3.4. Lebar Sungai
Semakin panjang dan lebar ukuran sungai semakin banyak pula jumlah biota yang menempatinya (Kottelat et al, 1996).Keanekaragaman dan kelimpahan biota juga ditentukan oleh karakteristik habitat perairan.
1.3.5. Kedalaman Sungai
            Pada sungai dapat dijumpai tingkat yang lebih tua dari hulu ke hilir,perubahan lebih terlihat pada bagian atas aliran air, dan komposisi kimia berubah dengan cepat. Dan komposisi komunitas berubah sewajarnya yang lebih jelas pada kilometer pertama disbanding lima puluh (50) kilometer terakhir (Odum,1988).
1.3.6. Kejernihan Air
            Kualitas estetika air tergantung pada kejernihannya dan karakteristik alirannya. Ada 2 macam warna pada air yaitu apparent color (suspensi zat organik)  dan true color (suspensi zat anorganik ) .  Air jernih dan murni sangat diperlukan aliran air yang deras  dianggap lebih menarik secara visual daripada air yang  statis dan lambat alirannya.  Aliran air yang deras dapat sedikit mengatasi efek buruk akibat turbiditas dan bau.  Debu, sedimen dan algae dapat mengurangi kualitas air secara fisik. Selain itu, keputusan kualitatif juga harus diambil terhadap kejernihan air, yaitu jernih, moderat, agak keruh atau keruh.
1.3.7. KecepatanArus
            Arus merupakan faktor pembatas yang mempunyai peranan sangat penting dalam perairan, baik pada ekosistem mengalir (lotic) maupun ekosistem menggenang (lentic). Hal ini disebabkan karena adanya arus akan mempengaruhi distribusi organisme, gas-gas terlarut, dan mineral yang terdapat di dalam air (Barus, 2002).
Semakin tinggi kecepatan arus, kandungan oksigen terlarut dalam air yang sangat dibutuhkan oleh biota air dalam metabolismenya akan semakin banyak. Kecepatan arus berkurang seiring dengan penambahan kedalaman suatu perairan. (Siregar, 2004)
.

1.3.8. Substart dasar
            Substrat dasar perairan merupakan tempat tinggal tumbuhan dan hewan yang hidup di dasar perairan. Jenis substrat ini menentukan kepadatan serta komposisi bentos (Brower dan Zar, 1977).
            Tipe substrat di suatu perairan sangat berhubungan erat dengan arus air. Hal ini karena arus berperan penting dalam proses pengangkutan dan pengendapan partikel yang dibawanya. Partikel yang lebih besar akan lebih cepat mengendap daripada partikel yang ukurannya lebih kecil. Oleh karena itu, substrat pada tempat yang arusnya kuat akan menjadi kasar (pasir atau kerikil). Substrat lumpur umumnya terdapat didaerah dengan kecepatan arus rendah. Substrat lumpur merupakan komponen utama pada wilayah estuari dan merupakan deposit lumpur lunak yang cenderung tidak stabil, sebagai prinsip dasar yang struktural untuk komunitas bentos di estuari (Barnes dab Hughes, 1999). Untuk mengetahui tipe substrat pada suatu perairan dapat digunakan Segitiga Millar seperti yang terdapat pada Gambar 1 (Fernedy, 2008).

1.3.9. Konduktivitas dan Salinitas
            Salinitas adalah nilai yang menunjukkan jumlah garam-garam terlarut dalam satuan volume air yang biasanya dinyatakan dengan satuan promil (‰) (Barus, 2002). salinitas memiliki pengaruh terhadap tekanan osmotik air. Perubahan salinitas secara cepat umumnya menyebabkan tingkat kematian yang tinggi. Salinitas air dipengaruhi oleh pencampuran air laut dan tawar, curah hujan dan evaporasi(Tseng,1987).
            Menurut Mc Neely et al, (1979) dalam Wardhani (2002), Daya Hantar Listrik (DHL) menunjukkan kemampuan air untuk menghantarkan aliran listrik. Konduktivitas air tergantung dari konsentrasi ion dan suhu air, oleh karena itu kenaikan padatan terlarut akan mempengaruhi kenaikan DHL.
            Konduktivitas air ditetapkan dengan mengukur tahanan listrik antara dua elektroda dan membandingkan tahanan ini dengan tahanan suatu larutan potasium klorida pada suhu 25oC. Bagi kebanyakan air, konsentrasi bahan padat terlarut dalam miligram per liter sama dengan 0,55 sampai 0,7 kali hantaran dalam mikroumhos per sentimeter pada suhu 25oC. Nilai yang pasti dari koefisien ini tergantung pada jenis garam yang ada didalam air (Linsley, 1995).


1.3.10.  Skor Fisik Habitat
            Skor fisik habitat adalah nilai dari kondisi yang terdapat pada suatu lingkungan habitat sungai tertentu. Dari nilai fisik tersebut dapat diperoleh bagaimana kondisi pada lingkungan tersebut, apakah lingkungan tersebut dalam keadaan Sub optimal, optimal, marginal atau poor (buruk) bagi organisme yang hidup didalamnya maupun yang ada disekitar sungai tersebut. Untuk dapat mendeskripsikan berapa skor fisik habitat dari suatu ekosistem dapat menggunakan tabel Barbour dan Stribling tahun 1991.
































II.          MATERI DAN METODE
2.1.       Materi
2.1.1. Alat
            Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah botol Winkler (4 buah), pipet ukur atau jarum suntik, labu erlenmeyer, thermometer, kertas pH, rolling meter, sechii disk, tali rafia (10 m), botol mineral 600 ml, label, selotif, GPS, jala surber.
2.1.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah sumber perairan, MnSO4 (1 ml), KOH-KI (1 ml), H2SO4 (1 ml), Na2S2O3 (0,025 n), indikator amilum, dan formalin 4%.
2.2.       Metode
2.2.1. Pengukuran Biological Oxygen Demand (BOD)(MetodeWinkler)
            Pengukuran BOD dilakukan berdasarkan metode Winkler yaitu sampel dimasukkan ke dalam dua botol Winkler volume 250 ml sampai penuh. Botol Winkler pertama segera diperiksa kandungan oksigennya (DO0   hari), sedangkan botol Winkler kedua diinkubasi selama 5 hari pada suhu 20°C. Setelah inkubasi 5 hari, diperiksa kandungan oksigennya (DO5 hari). Untuk ukuran blanko, prosedur kerjanya sama seperti sampel.
                        Kandungan BOD dapat dihitung dengan rumus:
                                    BOD = (A0 – A5) – (S0 –S5)T          
                                         P            
Keterangan :    A0 : Oksigen terlarut sampel pada nol hari
                        A5 : Oksigen terlarut sampel pada lima hari
                        S0 : Oksigen terlarut blanko pada nol hari
                        S5 : Oksigen terlarut blanko pada lima hari
                        T   : persen perbandingan antara A0 : S0
                        P   : derajat pengenceran

2.2.2. Pengukuran Temperatur
            Mencelupkan thermometer pada perairan, kemudian menunggu beberapa menit sampai pengukuran angka stabil. Pengukuran dilakukan pada 3 titik, selanjutnya di rata-ratakan.
2.2.3. Pengukuran Derajat keasaman air (pH)
            Dicelupkan kertas pH ke dalam air, perubahan warna yang terjadi pada kertas lakmus kemudian disamakan dengan warna skala pH yang tercantum.
2.2.4. Pengukuran Lebar Sungai
            Lebar sungai dapat diukur dengan menggunakan alat yang disebut rolling meter. Apabila pengukuran tidak memungkinkan dapat dilakukan estimasi.
2.2.5. Pengukuran Kedalaman Sungai
Melakukan pengukuran kedalaman dengan tongkat penduga yang telah
diberi skala tiap 2 meter lebar sungai.
2.2.6. Pengukuran Kejernihan air
            Keping sechii dimasukan ke dalam air. Diukur kedalaman sampai batas antara hitam dan putih tidak dapat di bedakan. Jika dasar sungai masih dapat di bedakan catat kedalaman sampai dasar tersebut.
2.2.7. Pengukuran KecepatanArus
            Mengisi botol mineral 600 ml dengan air, tutup rapat. Kemudian botol diikat dengan tali rafia 10 m. Selanjutnya botol dihanyutkan di sungai yang akan diukur kecepatan arusnya, dicatat waktu yang diperlukan hingga tali terbentang. Kemudian menghitung kecepatan arus dengan rumus:

                              s = v x t
            Keterangan:     s : jarak yang ditempuh (m)
                                    v : kecepatan arus (m/s)
                                    t  : waktu (s)

2.2.8. Pengukuran Substart dasar
Melakukan estimasi secara visual persentase bagian dasar sungai yang
tertutup lumpur, pasir, kerikil, ataupun batu.
2.2.9. Pengukuran Konduktivitas dan Salinitas
            Konduktivitas diukur dengan menggunakan alat konduktivitimeter dengan cara mencelupkan sensor konduktivitimeter kedalam air sungai. Kemudian hasil yang diperoleh dicatat.
2.2.10.  Pengukuran Skor Fisik Habitat
Mngukur skor fiisk habitat menggunakan Tabel Barbour dan Stribling. Pengukuran dilakukan pada tiap stasiun pengamatan.










Tabel 2.Kriteria Penilaian Kondisi Fisik Habitat Barbour danStribling
Habitat parameter
Optimal
SKOR: 20
Suboptimal
SKOR: 15
Marginal
SKOR: 10
Poor
SKOR: 5
Substrat dasar
Lebih dari 60% dasar perairan terdiri atas  kerikil, batu, cadas dengan porsi yang kurang lebih sama.
30-60% dari  dasar perairan berupa bebatuan atau cadas  didominasi oleh salah satu kelas ukuran tersebut.
10-30% merupakan salah satu materi yang besar tetapi lumpur atau pasir
70-90% mendominasi substrat dasar.
Substrat didominasi oleh lumpur dan pasir kerikil dan materi yang besar <10%.
Kekomplek
kan habitat
Berbagai macam tipe kayu pohon, cabang, tumbuhan akuatik, terdapat pada segmen sungai membentuk habitat yang bervariasi. Segmen sungai tertutup kanopi.
Substrat cukup bervariasi. Segmen sungai cukup terlindungi.
Habitat didominasi 1 atau 2 macam substrat, Tumbuhan tepi yang dinaungi segmen sungai sedikit.
Habitat monoton pasir dan lumpur menyebabkan habitat tidak bervariasi.
Kualitas bagian menggenang
25% dari bagian yang menggenang sama atau lebih lebar dari setengah lebar sungai, kedalaman >1m.
<5% bagian yang menggenang kedalamannya >1m dan lebih ½ lebar sungai. Umumnya bagian yang dalam ini lebih kecil dari setengah sungai dan kedalamannya > 1m.

<1% bagian yang menggenang kedalamannya >1m dan lebih lebar sungai bagian yang menggenang ini mungkin sangat dalam/ dangkal. Habitat tidak bervariasi.
Bagian yang menggenang  kecil dan dangkal bahkan mungkin tidak terdapat bagian yang menggenang.
Kestabilan tepi sungai
Tidak pernah ada bukti-bukti bahwa tempat tersebut pernah terjadi erosi atau berpotensi erosi.
Jarang terjadi bagian tepi yang gugur, kemungkinan gugur ada tetapi rendah.
Bagian tepi ada ynag mengalami erosi pada saat banjir.
Bagian tepi tidak stabil, sering terjadi erosi.

2.3.       Waktu dan Tempat Praktikum
            Praktimum dilaksanakan pada tanggal 12-13 oktober 2013 dengan tempat Gumawang, Kebumen, Beji, Kodim, Tanjung, Sidaboa dan Patikraja.





















III.      HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1.            Hasil Pengamatan Kondisi Fisikokimia Ekosistem Sungai (Pola Longitudinal Das Serayu)
Tabel 3. KondisiFisikokimiaEkosistem Sungai (Pola Longitudinal DAS Banjaran)
FaktorFisiko Kimia
Stasiun
Temp
KecepArus
TipeSubstrat
BOD
Konduktivitas
SkorFisik Habitat
pH
Salinitas
Gumawang
27°C
0,66
Berpasir
2,9
0,8
45
7
0
Kebumen
28°C
0,59
Berbatu kerikil
1,3
0,8
55
6
0
Beji
28,9°C
0,33
Berbatu
1,2
0,8
60
7
0
Kodim
30°C
1,03
Berbatu kerikil
2,7
0,8
60
6
0
Tanjung
30°C
0,269
Berbatu
1,8
0,8
60
6
0
Sidaboa
30,2°C
0,83
Berbatu dan berpasir didominasi kerikil
1,9
9,6
50
6
0
Patikraja
30,4°C
0,053
Lumpur
2
0,7
50
6
0

3.2.       Pembahasan
4.2.1. Biological Oxygen Demand (BOD)
            Hasil praktikum menunjukkan bahwa Gumawang, Kebumen, Beji, Kodim, Tanjung, Sidaboa, dan Patikraja termasuk sungai yang tercemar ringan. Hal diatas sesuai dengan pendapat Wirosarjono (1974) bahwa tingkat BOD dikatakan rendah yaitu dengan nilai antara 0 – 10 ppm, sedang 10 ppm, dan kategori tinggi dengan nilai 25 ppm.
4.2.2. Temperatur
            Berdasarkan data diatas menunjukkan bahwa suhudi 7 statsiun berbeda-beda dan temperaturnya menunjukkan  kenaikan.
4.2.3. Derajat keasaman air (pH)
            Hasil diatas memiliki nilai  6-7 yang berarti bahwa kondisi airnya netral sehingga dapat memungkinkan ikan untuk hidup, Semakin tinggi nilai pH, semakin tinggi pula nilai alkalinitas dan semakin rendah kadar karbondioksida bebasnya (Effendi, 2003).
4.2.4. Lebar Sungai
            Menurut data diatas menunjukkan bahwa sungai Gumawang memilikilebar paling rendah yaitu 15,5 m dan yang memiliki lebar paling tinggi adalah sungai Patikraja 64,2 m.
4.2.5. Kedalaman Sungai
            Data diatas menunjukkan bahwa sungai yang paling dangkal adalah sungai Kodim yaitu 38 cm dan yang memiliki kedalaman yang dalam adalah sungai Patikraja 1,95 m.

4.2.6. KecepatanArus
  Arus yang memiliki kecepatan tinggi adalah sungai kodim yaitu 1,03 dan yang memiliki kecpatan rendah adalah sungai Beji yaitu 0,33.


4.2.7. Substrat dasar
            Hasil dari substrat dasar di statsiun Gumawang adalah berpasir, kebumen memiliki substrat berbatu kerikil, Beji memiliki substrat berbatu, Kodim memiliki subbstrat berbatu kerikil, Tanjung memiliki substrat berbatu, Sidaboa memiliki substrar berbatu dan berpasir namun lebih dominan dengan kerikil, dan Patikraja memiliki substrat berlumpur.
4.2.8.      Skor Fisik Habitat
            Menurut Barbour and stribling (1991) substrat dasar optimal lebih dari 80% dasar perairan terdiri atas kerikil, batu atau cadas. Sedangkan didaerah hilir antara Lumpur dan pasir, berarti daerah tersebut poor. Berdasarkan hasil pengamatan diberbagai stasiun, dan yang paling rendah di statsiun Gumawang yaitu 45.












IV.      KESIMPULAN DAN SARAN

4.1.       Kesimpulan
            Berdasarkan pengamatan pola longitudinal sungai maka dapat disimpulkan bahwa :
1.      Faktor Fisika-Kimia dapat digunakan untuk mengetahui kondisi suatu perairan.
2.      Faktor Fisika-Kimia pada setiap perairan berbeda-beda hal diatas dapat       disebabkan karena faktor lokasi / letak perairan tersebut
                             
4.2.       Saran
            Praktikum Ekologi perairan penting untuk dilaksanakan, namun penentuan stasiun yang terlalu banyak membuat mahasiswa kewalahan dalam membuat laporan. Untuk kedepannya diharapkan penentuan stasiun lebih di spesifikkan, agar penyusunan laporan lebih terfokus.










DAFTAR PUSTAKA
             
              Haynes, H.B.N. 1977. Adult and Nymphs of British Stoneflis (Plecoptera).3th                                 edition. freshwater Biological Association.

         Hynes, H. B. 1972. The Ecological of Running Water. Liverpool University Press Ltd, London.

         Jeffries, M and Mills, D. 1996. Freshwater Ecology, Principles, and Aplications. John Wiley and Sons, Chichester, UK. 285 p.

              Leopold, l.b. 1974. Water: a primer, an outstanding and easy-to-read                                              introduction to the fundamentals of water resources. W.H.Freeman, San Franscisco, USA.

              Miller, G.T. 1990. Living in the Environment: An introduction to environmental                              Science. Sixth edition. Wardsworth Publishing Company,California, USA.

              Novotny, V and Olem, H. 1994. Water Quality, Prevention, Identification, and                               Management of Diffuse Pollution. Van Nostrans Reinhold, New York. 1054 p.

              Odum, P. E. 1971. Fundamental of Ecology. W. B. Sanders Company and Toppan                        Company Ltd. London.

              Odum, T. Howard. 1992. Ekologi System. Gajah Mada University Press. Rajawali.                        Yogyakarta.

            Odum, E.P 1998. Dasar Ekologi. (terjemahan) edisi 3. Gajah Mada Univ. Press:                            Yogyakarta.

Pescod, M. D. 1973. Investigation of Rational Effluen and Stream Standards for
            Tropical Countries. A.I.T. Bangkok, 59 pp.           
   
            Salmin. 2000. Kadar Oksigen Terlarut di Perairan Sungai Dadap, Goba, Muara Karang dan Teluk Banten. Dalam : Foraminifera Sebagai                        Bioindikator Pencemaran, Hasil Studi di Perairan Estuarin Sungai Dadap,Tangerang (Djoko P. Praseno, Ricky Rositasari dan S. Hadi Riyono, eds.)P3O - LIPI hal 42 – 46.

            
             Siregar, A. S. Toni, P. S. Setijanto. 2001. Studi Ekologi Fauna Benthik       (Macrobrachidium) di Sungai Banjaran, Pelus dan Logawa, Kabupaten Banyumas. Biosfera vol. 18 No 1


              Wirosarjono, S. 1974. Masalah-masalah yang dihadapi dalam penyusunan criteria   kualitas air guna berbagai peruntukan. PPMKL-DKI Jaya, Seminar Pengelolaan Sumber Daya Air. , eds. Lembaga Ekologi UNPAD. Bandung, 27 - 29 Maret 1974, hal 9 – 15.