LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN
KONDISI FISIKOKIMIA
EKOSISTEM SUNGAI (POLA LONGITUDINAL SUNGAI BANJARAN)

Oleh:
Jusac Rabin Sinaga H1K012022
Asisten :
Harry Farhat
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN
KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
PURWOKERTO
2013
I.
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Ekosistem
adalah kumpulan dari komunitas beserta faktor biotik (tumbuhan, hewan dan
manusia) dan abiotik (suhu, iklim, senyawa-senyawa organik dan anorganik).
Menurut Undang-Undang Lingkungan Hidup (UULH) tahun 1982 ekosistem adalah
tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup
yang saling mempengaruhi. Ekosistem merupakan tingkat yang lebih tinggi dari
komunitas atau merupakan kesatuan dari suatu komunitas dengan lingkungannya di
mana terjadi hubungan antar keduanya (Irwan, 1992).
Ekosistem
sungai merupakan suatu kumpulan integral dari berbagai komponen abiotik
(fisika-kimia) dan biotik (organisme hidup) yang berkaitan satu sama lain dan
saling berinteraksi membentuk suatu unit fungsional. Komponen-komponen ini
secara fungsional tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Apabila terjadi
perubahan pada salah satu dari komponen-komponen tersebut (misalnya perubahan
nilai parameter fisika-kimia perairan), maka akan menyebabkan perubahan pada
komponen lainnya (misalnya perubahan kualitatif dan kuantitatif organismenya).
Perubahan ini tentunya dapat mempengaruhi keseluruhan sistem yang ada, baik
dalam kesatuan struktur fungsional maupun dalam keseimbangannya.
Sungai
merupakan perairan yang mengalir (lotik), oleh karena itu sungai memiliki arus
yang berbeda-beda di setiap tempatnya. Dan di setiap aliran memilki organisme
yang berbeda pula.
Zona utama sungai pada aliran air ada 2 macam yaitu zona air deras
dan air tenang. Zona arus deras yaitu daerah yang dangkal dan kecepatan
arus cukup tinggiuntuk meyebabkan dasar sungai bersih dari endapan dan materi
lain yang lepas,sehingga dasarnya padat. Zona arus tenang yaitu bagian sungai
yang dalam dengankecepatan arus sudah berkurang, maka lumpur dan materi lepas
cenderungmengendap didasar. Sungai mengalami perubahan dari hulu ke hilir.
Perubahantersebut dapat terlihat pada bagian atas dari aliran air, dan
komposisi kimia berubahdengan cepat. Perubahan komposisi komunitas sewajarnya
lebih jelas pada kilometer terahir (Odum, 1993).
1.2.
Tujuan
Praktikum ekologi perairan, Pola
Longitudinal Ekosistem Sungai ini bertujuan untuk mengetahui:
1. Bagaimana pola perubahan dari faktor-faktor fisikokimia sepanjang dearah aliran sungai Serayu
2. Pengaruhnya terhadap biota perairan yang terdapat didalamnya.
1. Bagaimana pola perubahan dari faktor-faktor fisikokimia sepanjang dearah aliran sungai Serayu
2. Pengaruhnya terhadap biota perairan yang terdapat didalamnya.
I.
TINJAUAN PUSTAKA
1.1.
Ekosistem
Ekosistem merupakan suatu sistem
ekologi yang terdiri atas komponen- komponen biotik dan abiotik yang saling berintegrasi
sehingga membentuk satu kesatuan. Di dalam ekosistem perairan danau terdapat
faktor-faktor abiotik dan biotik (produsen, konsumen dan pengurai) yang
membentuk suatu hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi.. Berdasarkan
pustaka lain, telaga adalah suatu badan air alami yang selalu tergenang
sepanjang tahun dan mempunyai mutu air tertentu yang beragam dari satu telaga
ke telaga yang lain serta mempunyai produktivitas biologi yang tinggi (Ruttner,
1977 dalam Satari, 2001).
1.2.
Sungai
Sungai adalah perairan umum yang airnya mengalir terus menerus pada
arah tertentu, berasal dari air tanah, air permukaan yang diakhiri bermuara ke
laut. Sungai sebagai perairan umum yang berlokasi di darat dan merupakan suatu
ekosistem terbuka yang berhubungan erat dengan sistem-sistem terestrial dan
lentik. Ciri-ciri umum daerah aliran sungai adalah semakin ke hulu daerahnya
pada umumnya mempunyai tofograpi makin bergelombang sampai bergunung-gunung.
Sungai adalah lingkungan alam yang banyak dihuni oleh organisme (Odum, 1996).
Zonasi pada habitat air mengalir adalah mengarah ke longitudinal,
yang menunjukkan bahwa tingkat yang lebih atas berada di bagian hulu dan
kemudian mengarah ke hilir. Menurut Soemarwoto (1980), Pada habitat air
mengalir ini, perubahan-perubahan yang terjadi akan lebih nampak pada bagian
atas dari aliran air karena adanya kemiringan, volume air atau komposisi kimia
yang berubah. Menurut Soemarwoto (1980), secara umum zonasi habitat air
mengalir, yaitu:
Arus mempunyai arti penting untuk pergerakan ikan. Arus yang searah dari hulu sangat penting untuk pergerakan ikan atau bahkan menyebabkakn ikan-ikan bergerak aktif melawann arus, kea rah muara pergerakan ikan dapat berlangsung dengan pasif maupun mengapung (Wotton, 1992), Sungai merupakan salah satu perairan darat yang mengalir. Berdaasrkan letak dan kondisi lingkungannya dibagi menjadi tiga bagian :
Arus mempunyai arti penting untuk pergerakan ikan. Arus yang searah dari hulu sangat penting untuk pergerakan ikan atau bahkan menyebabkakn ikan-ikan bergerak aktif melawann arus, kea rah muara pergerakan ikan dapat berlangsung dengan pasif maupun mengapung (Wotton, 1992), Sungai merupakan salah satu perairan darat yang mengalir. Berdaasrkan letak dan kondisi lingkungannya dibagi menjadi tiga bagian :
• Hulu sungai, terletak di daerah yang dataran tinggi,
menglir melalui bagian yang curam, dangkal, berbatu, arus deras, volume air
kecil, kandungan oksigen telarut tinggi, suhu yang rendah, dan warna air
jernih.
• Hilir sungai, terletak didaratan yang rendah, dengan
arus yang tidak begitu kuat dan volume air yang besar, kecepatan fotosintesis
yang tinggi dan banyak bertumpuk pupuk organik.
• Muara sungai letaknya hamper mencapai laut atau
pertemuan sungai-sungai lain, arus air sangat lambat dengan volume yang lebih
besar, banyak mengandung bahan terlarut, Lumpur dari hilir membentik delta dan
warna air sangat keruh .
1.3.
Parameter Fisikokimia
Perairan Sungai
Faktor yang
menentukan distribusi dari biota air adalah sifat fisik-kimmia perairan.
Organisme yang dapat disesuaikan denagn kondisi sifat fisik-kimia yang akan
mampu hidup (Krebs ,1978). Penyebaran jenis dan hewan akkuatik ditentukan oleh kualitas
lingkungan yang ada seperti sifat fisika, kimia, biologisnya(Odum, 1971).
Whitton (1975) menambahkan bahwa kehidupan ikan disuatu perairan dipengaruhi
oleh volume air mengalir, kecepatan arus, temperatur, pH dan konsentrasi
oksigen terlarut.
1.3.1.
Biological Oxygen Demand (BOD)
BOD atau Biochemical Oxygen Demand adalah suatu
karakteristik yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh
mikroorganisme(biasanya bakteri) untuk mengurai atau mendekomposisi bahanorganik
dalamkondisi aerobik (Umaly dan Cuvin, 1988; Metcalf & Eddy, 1991).
Ditegaskanlagi oleh Boyd (1990), bahwa bahan organik yang terdekomposisi dalam
BOD adalah bahan organik yang siap terdekomposisi (readily decomposable organic
matter). Mays (1996) mengartikan BOD sebagai suatu ukuran jumlah oksigen yang
digunakan oleh populasi mikroba yang terkandung dalam perairan sebagai respon
terhadap masuknya bahan organik yang dapat diurai.
BOD adalah suatu analisa empiris yang mencoba
mendekati secara global proses mikrobiologis yang benar-benar terjadi dalam
air. BOD merupakan parameter yang umum
dipakai untuk menentukan tingkat pencemaran bahan organik pada air limbah.
Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan
dan untuk mendesain sistem pengolahan secara biologis (G. Alerts dan SS
Santika, 1987). Adanya bahan organik yang cukup tinggi (ditunjukkan dengan
nilai BOD dan COD) menyebabkan mikroba menjadi aktif dan menguraikan bahan
organik tersebut secara biologis menjadi senyawa asam-asam organik.
Peruraian ini terjadi disepanjang saluran
secara aerob dan anaerob. Timbul gas CH4, NH3
dan H2S yang berbau busuk (Djarwanti dkk, 2000). Uji BOD ini tidak
dapat digunakan untuk mengukur jumlah bahan-bahan organik yang sebenarnya
terdapat di dalam air, tetapi hanya mengukur secara relatif jumlah konsumsi
oksigen yang digunakan untuk mengoksidasi bahan organik tersebut. Semakin
banyak oksigen yang dikonsumsi, maka semakin banyak pula kandungan bahan-bahan
organik di dalamnya.
1.3.2.
Temperatur
Temperatur
adalah salah satu
faktor yang penting dalam suatu perairan untuk mengukur temperatuh lingkkungan
tersebut. Suhu merupakan salah satu faktoryang penting dalam suatu perairan
karena suhu merupakan faktor pembatas bagi ekosistem perairan dan akan
membatasi kehidupan organisme akuatik (Oudum, 1971). Menurut Sucipto dan Eko
(2005) menyatakan bahwa suhu mematikan (lethal) hampir untuk semua spesies ikan
bekisar 10-11ºC selama beberapa hari. Menurut Barus (2002), kisaran suhu air
yang baik dalam perairan dan kehidupan ikan yaitu berkisar antara 23-32ºC.
1.3.3.
Derajat keasaman air (pH)
Derajat krasaman (pH) merupakan
suatu indeks konsentrasi ion hidrogen dan mempunyai pengaruh yang besar
terhadap kehidupan organisme perairan, sehingga dapat dipergunakan sebagai
petunjuk baik buruknya suatu perairan sebagai lingkungan hidup (Siregar,et al.,
2002). Derajat keasaman berpengaruh sangat besar terhadap kehidupan hewan dan
tumbuhan air serta mempengaruhi toksisitas suatu senyawa kimia (Effendi, 2003).
Nilai pH dapat dipengaruhi anatara lain buangan industri dan rumah tangga
(Mahidda, 1984). Derajat krasaman (pH) berkaitan erat dengan karbondioksida dan
alkalinitas, semakin tinggi pH, semakin tinggi alkalinitas dan semakin rendah
kadar kandungan dioksida bebas (Mackereth et al, 1989). pH merupakan tingkat
derajat keasaman yang dimiliki setiap unsur, pH juga berpengaruh terhadap
setiap organisme, karena setiap organisme atau indivudu memiliki ketentuan pada
derajat keasaman (pH) berapa mereka dapat hidup.
Kondisi perairan yang bersifat
sangat asam maupun sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme
karena akan menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi serta
dapat meningkatkan konsentrasi ammonia yang bersifat sangat toksik bagi
organisme (Barus, 2002). (Pescod, 1973 dalam Kristina, 2001) menyatakan pada pH
antara 4-6,5 dan pH 8,5-11 pertumbuhan ikan akan lambat sehingga reproduksi
terhambat
1.3.4.
Lebar Sungai
Semakin panjang dan lebar ukuran
sungai semakin banyak pula jumlah biota yang menempatinya (Kottelat et al,
1996).Keanekaragaman dan kelimpahan biota juga ditentukan oleh karakteristik
habitat perairan.
1.3.5. Kedalaman Sungai
Pada sungai dapat
dijumpai tingkat yang lebih tua dari hulu ke hilir,perubahan lebih terlihat
pada bagian atas aliran air, dan komposisi kimia berubah dengan cepat. Dan
komposisi komunitas berubah sewajarnya yang lebih jelas pada kilometer pertama
disbanding lima puluh (50) kilometer terakhir (Odum,1988).
1.3.6. Kejernihan Air
Kualitas estetika air tergantung pada
kejernihannya dan karakteristik alirannya. Ada 2 macam warna pada air yaitu
apparent color (suspensi zat organik) dan true color (suspensi zat
anorganik ) . Air jernih dan murni sangat diperlukan aliran air yang
deras dianggap lebih menarik secara visual daripada air yang statis
dan lambat alirannya. Aliran air yang deras dapat sedikit mengatasi efek
buruk akibat turbiditas dan bau. Debu, sedimen dan algae dapat mengurangi
kualitas air secara fisik. Selain itu, keputusan kualitatif juga harus diambil
terhadap kejernihan air, yaitu jernih, moderat, agak keruh atau keruh.
1.3.7. KecepatanArus
Arus merupakan
faktor pembatas yang mempunyai peranan sangat penting dalam perairan, baik pada
ekosistem mengalir (lotic) maupun ekosistem menggenang (lentic). Hal ini
disebabkan karena adanya arus akan mempengaruhi distribusi organisme, gas-gas
terlarut, dan mineral yang terdapat di dalam air (Barus, 2002).
Semakin tinggi kecepatan arus, kandungan oksigen terlarut dalam air yang sangat dibutuhkan oleh biota air dalam metabolismenya akan semakin banyak. Kecepatan arus berkurang seiring dengan penambahan kedalaman suatu perairan. (Siregar, 2004).
Semakin tinggi kecepatan arus, kandungan oksigen terlarut dalam air yang sangat dibutuhkan oleh biota air dalam metabolismenya akan semakin banyak. Kecepatan arus berkurang seiring dengan penambahan kedalaman suatu perairan. (Siregar, 2004).
1.3.8. Substart dasar
Substrat dasar perairan merupakan tempat
tinggal tumbuhan dan hewan yang hidup di dasar perairan. Jenis substrat ini
menentukan kepadatan serta komposisi bentos (Brower dan Zar, 1977).
Tipe substrat di suatu perairan sangat
berhubungan erat dengan arus air. Hal ini karena arus berperan penting dalam
proses pengangkutan dan pengendapan partikel yang dibawanya. Partikel yang
lebih besar akan lebih cepat mengendap daripada partikel yang ukurannya lebih
kecil. Oleh karena itu, substrat pada tempat yang arusnya kuat akan menjadi
kasar (pasir atau kerikil). Substrat lumpur umumnya terdapat didaerah dengan
kecepatan arus rendah. Substrat lumpur merupakan komponen utama pada wilayah
estuari dan merupakan deposit lumpur lunak yang cenderung tidak stabil, sebagai
prinsip dasar yang struktural untuk komunitas bentos di estuari (Barnes dab
Hughes, 1999). Untuk mengetahui tipe substrat pada suatu perairan dapat
digunakan Segitiga Millar seperti yang terdapat pada Gambar 1 (Fernedy, 2008).
1.3.9. Konduktivitas dan Salinitas
Salinitas adalah
nilai yang menunjukkan jumlah garam-garam terlarut dalam satuan volume air yang
biasanya dinyatakan dengan satuan promil (‰) (Barus, 2002). salinitas memiliki
pengaruh terhadap tekanan osmotik air. Perubahan salinitas secara cepat umumnya
menyebabkan tingkat kematian yang tinggi. Salinitas air dipengaruhi oleh
pencampuran air laut dan tawar, curah hujan dan evaporasi(Tseng,1987).
Menurut Mc Neely
et al, (1979) dalam Wardhani (2002),
Daya Hantar Listrik (DHL) menunjukkan kemampuan air untuk menghantarkan aliran
listrik. Konduktivitas air tergantung dari konsentrasi ion dan suhu air, oleh
karena itu kenaikan padatan terlarut akan mempengaruhi kenaikan DHL.
Konduktivitas air
ditetapkan dengan mengukur tahanan listrik antara dua elektroda dan
membandingkan tahanan ini dengan tahanan suatu larutan potasium klorida pada
suhu 25oC. Bagi kebanyakan air, konsentrasi bahan padat terlarut dalam
miligram per liter sama dengan 0,55 sampai 0,7 kali hantaran dalam mikroumhos
per sentimeter pada suhu 25oC. Nilai yang pasti dari koefisien ini
tergantung pada jenis garam yang ada didalam air (Linsley, 1995).
1.3.10.
Skor
Fisik Habitat
Skor fisik habitat adalah nilai dari
kondisi yang terdapat pada suatu lingkungan habitat sungai tertentu. Dari nilai
fisik tersebut dapat diperoleh bagaimana kondisi pada lingkungan tersebut,
apakah lingkungan tersebut dalam keadaan Sub optimal, optimal, marginal atau
poor (buruk) bagi organisme yang hidup didalamnya maupun yang ada disekitar
sungai tersebut. Untuk dapat mendeskripsikan berapa skor fisik habitat dari
suatu ekosistem dapat menggunakan tabel Barbour dan Stribling tahun 1991.
II.
MATERI DAN
METODE
2.1.
Materi
2.1.1. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah botol Winkler (4
buah), pipet ukur atau jarum suntik, labu erlenmeyer, thermometer, kertas pH,
rolling meter, sechii disk, tali rafia (10 m), botol mineral 600 ml, label,
selotif, GPS, jala surber.
2.1.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum
adalah sumber perairan, MnSO4 (1 ml), KOH-KI (1 ml), H2SO4
(1 ml), Na2S2O3 (0,025 n), indikator amilum,
dan formalin 4%.
2.2.
Metode
2.2.1. Pengukuran Biological Oxygen Demand (BOD)(MetodeWinkler)
Pengukuran
BOD dilakukan berdasarkan metode Winkler yaitu sampel dimasukkan ke dalam dua
botol Winkler volume 250 ml sampai penuh. Botol Winkler pertama segera
diperiksa kandungan oksigennya (DO0 hari), sedangkan
botol Winkler kedua diinkubasi selama 5 hari pada suhu 20°C. Setelah inkubasi 5
hari, diperiksa kandungan oksigennya (DO5 hari). Untuk ukuran
blanko, prosedur kerjanya sama seperti sampel.
Kandungan
BOD dapat dihitung dengan rumus:
BOD = (A0 – A5) – (S0 –S5)T
P
Keterangan : A0 : Oksigen terlarut sampel
pada nol hari
A5 : Oksigen terlarut sampel pada lima hari
S0 : Oksigen terlarut blanko pada nol hari
S5 : Oksigen terlarut blanko pada lima hari
T : persen perbandingan antara A0 : S0
P : derajat pengenceran
2.2.2. Pengukuran
Temperatur
Mencelupkan
thermometer pada perairan, kemudian menunggu beberapa menit sampai pengukuran
angka stabil. Pengukuran dilakukan pada 3 titik, selanjutnya di rata-ratakan.
2.2.3. Pengukuran Derajat keasaman air (pH)
Dicelupkan kertas pH ke dalam air, perubahan warna
yang terjadi pada kertas lakmus kemudian disamakan dengan warna skala pH yang
tercantum.
2.2.4. Pengukuran Lebar Sungai
Lebar sungai
dapat diukur dengan menggunakan alat yang disebut rolling meter. Apabila
pengukuran tidak memungkinkan dapat dilakukan estimasi.
2.2.5. Pengukuran Kedalaman Sungai
Melakukan pengukuran
kedalaman dengan tongkat penduga yang telah
diberi skala tiap 2 meter
lebar sungai.
2.2.6. Pengukuran Kejernihan air
Keping sechii dimasukan ke dalam air. Diukur
kedalaman sampai batas antara hitam dan putih tidak dapat di bedakan. Jika
dasar sungai masih dapat di bedakan catat kedalaman sampai dasar tersebut.
2.2.7. Pengukuran
KecepatanArus
Mengisi
botol mineral 600 ml dengan air, tutup rapat. Kemudian botol diikat dengan tali
rafia 10 m. Selanjutnya botol dihanyutkan di sungai yang akan diukur kecepatan
arusnya, dicatat waktu yang diperlukan hingga tali terbentang. Kemudian
menghitung kecepatan arus dengan rumus:
s = v x t
Keterangan: s : jarak yang
ditempuh (m)
v : kecepatan arus (m/s)
t : waktu (s)
2.2.8. Pengukuran Substart dasar
Melakukan estimasi
secara visual persentase bagian dasar sungai yang
tertutup lumpur, pasir,
kerikil, ataupun batu.
2.2.9. Pengukuran Konduktivitas dan Salinitas
Konduktivitas diukur dengan menggunakan alat
konduktivitimeter dengan cara mencelupkan sensor konduktivitimeter kedalam air
sungai. Kemudian hasil yang diperoleh dicatat.
2.2.10.
Pengukuran Skor Fisik Habitat
Mngukur
skor fiisk habitat menggunakan Tabel Barbour dan Stribling. Pengukuran
dilakukan pada tiap stasiun pengamatan.
Tabel 2.Kriteria Penilaian Kondisi Fisik Habitat Barbour danStribling
|
Habitat
parameter
|
Optimal
SKOR: 20
|
Suboptimal
SKOR: 15
|
Marginal
SKOR: 10
|
Poor
SKOR: 5
|
|
Substrat
dasar
|
Lebih dari
60% dasar perairan terdiri atas
kerikil, batu, cadas dengan porsi yang kurang lebih sama.
|
30-60% dari dasar
perairan berupa bebatuan atau cadas
didominasi oleh salah satu kelas ukuran tersebut.
|
10-30% merupakan salah satu materi yang besar tetapi lumpur
atau pasir
70-90% mendominasi substrat dasar.
|
Substrat didominasi oleh lumpur dan pasir kerikil dan
materi yang besar <10%.
|
|
Kekomplek
kan
habitat
|
Berbagai macam tipe kayu pohon, cabang, tumbuhan akuatik,
terdapat pada segmen sungai membentuk habitat yang bervariasi. Segmen sungai
tertutup kanopi.
|
Substrat cukup bervariasi. Segmen sungai cukup terlindungi.
|
Habitat didominasi 1 atau 2 macam substrat, Tumbuhan tepi
yang dinaungi segmen sungai sedikit.
|
Habitat monoton pasir dan lumpur menyebabkan habitat tidak
bervariasi.
|
|
Kualitas
bagian menggenang
|
25% dari bagian yang menggenang sama atau lebih lebar dari
setengah lebar sungai, kedalaman >1m.
|
<5% bagian yang menggenang kedalamannya >1m dan lebih
½ lebar sungai. Umumnya bagian yang dalam ini lebih kecil dari setengah sungai dan kedalamannya > 1m.
|
<1% bagian yang menggenang kedalamannya >1m dan lebih
lebar sungai bagian yang menggenang ini mungkin sangat dalam/ dangkal.
Habitat tidak bervariasi.
|
Bagian yang menggenang
kecil dan dangkal bahkan mungkin tidak terdapat bagian yang
menggenang.
|
|
Kestabilan
tepi sungai
|
Tidak pernah ada bukti-bukti bahwa tempat tersebut pernah
terjadi erosi atau berpotensi erosi.
|
Jarang terjadi bagian tepi yang gugur, kemungkinan gugur
ada tetapi rendah.
|
Bagian tepi ada ynag mengalami erosi pada saat banjir.
|
Bagian tepi tidak stabil, sering terjadi erosi.
|
2.3.
Waktu dan Tempat Praktikum
Praktimum
dilaksanakan pada tanggal 12-13 oktober 2013 dengan tempat Gumawang, Kebumen,
Beji, Kodim, Tanjung, Sidaboa dan Patikraja.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1.
Hasil Pengamatan Kondisi Fisikokimia Ekosistem
Sungai (Pola Longitudinal Das Serayu)
Tabel 3. KondisiFisikokimiaEkosistem
Sungai (Pola Longitudinal DAS
Banjaran)
FaktorFisiko Kimia
|
Stasiun
|
Temp
|
KecepArus
|
TipeSubstrat
|
BOD
|
Konduktivitas
|
SkorFisik
Habitat
|
pH
|
Salinitas
|
|
Gumawang
|
27°C
|
0,66
|
Berpasir
|
2,9
|
0,8
|
45
|
7
|
0
|
|
Kebumen
|
28°C
|
0,59
|
Berbatu kerikil
|
1,3
|
0,8
|
55
|
6
|
0
|
|
Beji
|
28,9°C
|
0,33
|
Berbatu
|
1,2
|
0,8
|
60
|
7
|
0
|
|
Kodim
|
30°C
|
1,03
|
Berbatu kerikil
|
2,7
|
0,8
|
60
|
6
|
0
|
|
Tanjung
|
30°C
|
0,269
|
Berbatu
|
1,8
|
0,8
|
60
|
6
|
0
|
|
Sidaboa
|
30,2°C
|
0,83
|
Berbatu dan berpasir didominasi kerikil
|
1,9
|
9,6
|
50
|
6
|
0
|
|
Patikraja
|
30,4°C
|
0,053
|
Lumpur
|
2
|
0,7
|
50
|
6
|
0
|
3.2.
Pembahasan
4.2.1.
Biological
Oxygen Demand (BOD)
Hasil praktikum menunjukkan bahwa Gumawang, Kebumen, Beji, Kodim,
Tanjung, Sidaboa, dan Patikraja termasuk sungai yang tercemar ringan. Hal diatas sesuai dengan pendapat
Wirosarjono (1974) bahwa tingkat BOD dikatakan
rendah yaitu dengan nilai antara 0 – 10 ppm, sedang 10 ppm, dan kategori tinggi
dengan nilai 25 ppm.
4.2.2.
Temperatur
Berdasarkan data
diatas menunjukkan bahwa suhudi 7 statsiun berbeda-beda dan temperaturnya
menunjukkan kenaikan.
4.2.3.
Derajat
keasaman air (pH)
Hasil diatas memiliki nilai 6-7 yang
berarti bahwa kondisi airnya netral sehingga dapat memungkinkan ikan untuk
hidup, Semakin tinggi nilai pH, semakin tinggi
pula nilai alkalinitas dan semakin rendah kadar karbondioksida bebasnya
(Effendi, 2003).
4.2.4.
Lebar
Sungai
Menurut data diatas menunjukkan bahwa sungai Gumawang
memilikilebar paling rendah yaitu 15,5 m dan yang memiliki lebar paling tinggi
adalah sungai Patikraja 64,2 m.
4.2.5.
Kedalaman Sungai
Data diatas
menunjukkan bahwa sungai yang paling dangkal adalah sungai Kodim yaitu 38 cm
dan yang memiliki kedalaman yang dalam adalah sungai Patikraja 1,95 m.
4.2.6.
KecepatanArus
Arus yang memiliki kecepatan tinggi adalah sungai kodim
yaitu 1,03 dan yang memiliki kecpatan rendah adalah sungai Beji yaitu 0,33.
4.2.7.
Substrat dasar
Hasil dari substrat
dasar di statsiun Gumawang adalah berpasir, kebumen memiliki substrat berbatu
kerikil, Beji memiliki substrat berbatu, Kodim memiliki subbstrat berbatu
kerikil, Tanjung memiliki substrat berbatu, Sidaboa memiliki substrar berbatu
dan berpasir namun lebih dominan dengan kerikil, dan Patikraja memiliki substrat
berlumpur.
4.2.8. Skor Fisik Habitat
Menurut Barbour and stribling (1991)
substrat dasar optimal lebih dari 80% dasar perairan terdiri atas kerikil, batu
atau cadas. Sedangkan didaerah hilir antara Lumpur dan pasir, berarti daerah
tersebut poor. Berdasarkan hasil pengamatan diberbagai stasiun, dan yang paling rendah di
statsiun Gumawang yaitu 45.
IV.
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1.
Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan pola longitudinal sungai maka dapat
disimpulkan bahwa :
1.
Faktor Fisika-Kimia dapat digunakan untuk mengetahui
kondisi suatu perairan.
2.
Faktor Fisika-Kimia pada setiap perairan berbeda-beda
hal diatas dapat disebabkan karena
faktor lokasi / letak perairan tersebut
Praktikum Ekologi perairan penting untuk dilaksanakan, namun
penentuan stasiun yang terlalu banyak membuat mahasiswa kewalahan dalam membuat
laporan. Untuk kedepannya diharapkan penentuan stasiun lebih di spesifikkan,
agar penyusunan laporan lebih terfokus.
DAFTAR PUSTAKA
Haynes, H.B.N. 1977. Adult and Nymphs of British Stoneflis
(Plecoptera).3th edition. freshwater Biological Association.
Hynes,
H. B. 1972. The Ecological of Running Water. Liverpool University Press Ltd, London.
Jeffries,
M and Mills, D. 1996. Freshwater Ecology, Principles, and Aplications. John Wiley and Sons, Chichester, UK. 285 p.
Leopold, l.b. 1974. Water: a primer, an outstanding and
easy-to-read introduction to the fundamentals of water resources. W.H.Freeman, San Franscisco, USA.
Miller, G.T. 1990. Living in the Environment: An introduction to
environmental Science. Sixth edition. Wardsworth
Publishing Company,California, USA.
Novotny, V and Olem, H. 1994. Water Quality, Prevention,
Identification, and Management of Diffuse Pollution. Van
Nostrans Reinhold, New York. 1054 p.
Odum, P. E. 1971. Fundamental of Ecology. W. B. Sanders
Company and Toppan Company
Ltd. London.
Odum, T. Howard. 1992. Ekologi System. Gajah Mada University
Press. Rajawali. Yogyakarta.
Odum, E.P 1998. Dasar Ekologi.
(terjemahan) edisi 3. Gajah Mada Univ. Press: Yogyakarta.
Pescod, M. D. 1973. Investigation of Rational Effluen and
Stream Standards for
Tropical Countries. A.I.T. Bangkok, 59
pp.
Salmin. 2000. Kadar Oksigen Terlarut di
Perairan Sungai Dadap, Goba, Muara Karang dan Teluk Banten. Dalam :
Foraminifera Sebagai Bioindikator Pencemaran, Hasil Studi di Perairan Estuarin Sungai Dadap,Tangerang (Djoko P. Praseno, Ricky Rositasari
dan S. Hadi Riyono, eds.)P3O - LIPI hal 42 – 46.
Siregar, A. S. Toni, P. S. Setijanto. 2001. Studi Ekologi Fauna
Benthik (Macrobrachidium) di Sungai Banjaran,
Pelus dan Logawa, Kabupaten Banyumas.
Biosfera vol. 18 No 1.
Wirosarjono, S. 1974. Masalah-masalah yang
dihadapi dalam penyusunan criteria kualitas air guna berbagai peruntukan.
PPMKL-DKI Jaya, Seminar Pengelolaan
Sumber Daya Air. , eds. Lembaga Ekologi UNPAD. Bandung, 27 - 29 Maret 1974, hal 9 – 15.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar